smansakar web

 

 

 

You are here: Home Manajemen . ? . BK Analisis Potensi Siswa

Analisis Potensi Siswa

 A.      Visi dan Misi

Visi layanan analisis potensi siswa adalah terwujudnya peserta didik yang memahami semua potensi yang dimilikinya dan berupaya mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut menjadi prestasi yang membanggakan.

 

Misi layanan analisis potensi siswa adalah

1.    memfasilitasi guru mata pelajaran, wali kelas dan guru  Bimbingan dan Konseling dengan informasi tentang cara-cara mengidentifikasi  potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didiknya.

2.     memfasilitasi guru mata pelajaran, wali kelas dan guru Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan yang dapat menyelaraskan target materi pembelajaran dengan wadah penyaluran potensi peserta didik

 

B.      Tujuan

Adapun tujuan layanan analisis potensi siswa ini adalah sebagai berikut :

1.    Memberi informasi tentang cara-cara mengidentifikasi potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik.

2.     Memberi contoh analisis data untuk mengidentifikasi potensi yang dimiliki oleh peserta didik.

3.     Memberi contoh wadah penyaluran potensi peserta didik agar potensi tersebut teraktualisaikan sehingga dapat meraih sebuah prestasi.

 

C.      Pengertian

Layanan analisis potensi siswa adalah pelayanan dalam mengidentifikasi potensi yang dimiliki oleh peserta didik dan berupaya menyediakan wadah penyaluran  agar potensi tersebut dapat teraktulisasikan sehingga mereka dapat mencapai prestasi yang optimal.

 

Setiap orang pasti mempunyai potensi tertentu dalam dirinya.  Ada 3 ranah potensi sebagaimana gambar tersebut di bawah ini :

Potensi yang paling menonjol dari setiap orang berbeda-beda.  Ada yang dominan di ranah kognitif saja tetapi lemah di ranah afektif dan psikomotor.  Misalnya pintar (mudah dan cepat) mencerna materi pembelajaran, seakan-akan ia memiliki ”photographic memory”, tetapi mudah tersinggung jika ada yang meledeknya dan tulisannya sulit dibaca.  Ada yang dominan pada ranah afektif, tetapi lemah pada ranah kognitif dan psikomotor.  Misalnya ia pandai mengambil hati teman-temannya, sehingga beberapa kali terpilih sebagai koordinator Paskibra, tetapi nilai ulangannya berkisar di nilai KKM saja dan gerakannya sendiri sebagai pelaksana pengibar bendera kurang luwes, sehingga ia tidak pernah terpilih sebagai petugas resmi upacara bendera.  Ada pula yang dominan pada ranah psikomotor, tetapi lemah pada ranah kognitif dan afektif.  Misalnya ia jago memasukkan bola ke ring basket sehingga menjadi andalan tim basket sekolah, tetapi nilai ulangannya dibawah KKM dan mudah terpancing jika disoraki oleh penonton sehingga konsentrasinya mudah teralih. 

Kita semua tentu menginginkan semua peserta didik seimbang potensinya, baik pada ranah kognitif, afektif maupun psikomotor.  Yang menjadi tugas utama kita adalah mampu menganalisis potensi-potensi peserta didik kita dan memberi wadah penyaluran agar potensi-potensi tersebut dapat teraktualisaikan sehingga mampu meraih prestasi.

Berikut ini akan diuraikan sarana yang dapat digunakan untuk menganalisis potensi siswa, baik pada ranah kognitif, afektif maupun psikomotor.

 

A.      Analisis Potensi Kognitif

Potensi kognitif peserta didik dapat diukur dengan cara sebagai berikut

1.       Angket, yaitu formulir isian yang diisi oleh peserta didik yang berisi informasi tentang :

a.   riwayat sekolah; Jika jenjang sekolah TK, SD dan SMP-nya termasuk sekolah unggulan, maka dapat dibuat kesimpulansementara bahwa peserta didik tersebut memiliki potensi kognitif (pintar)

b.   prestasi akademik yang pernah dicapai; Jika peserta didik mencantumkan sejumlah piagam penghargaan atas peringkat 3 besar yang pernah diraihnya, atau sejumlah beasiswa yang pernah dicapainya, maka dapat disimpulkan bahwa ia memiliki potensi kognitif.

c.   tingkat pendidikan orang tua; Jika pendidikan orang tuanya S2 atau S3, maka dapat diharapkan putra-putrinya memiliki potensi kognitif.

2.       Data raport, yaitu data perkembangan prestasi belajar peserta didik pada semester-semester sebelumnya.  Seorang peserta didik dikatakan memiliki potensi kognitif jika data raportnya menunjukkan ia termasuk peringkat 3 besar di kelasnya danatau nilai-nilainya berada di atas nilai rata-rata kelas.

3.       Observasi, yaitu pengamatan seberapa cepat seorang peserta didik menyelesaikan tugasnya dengan hasil jawaban yang tepat dan benar.  Indikator seorang peserta didik dikatakan memiliki potensi kognitif, antara lain :

a.   Aktif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan dengan jawaban yang tepat/benar.

b.   Mengerjakan tugas lebih cepat (kurang lebih ½ waktu yang dibutuhkan) dengan nilai tugas diatas 8.

4.       Achievement Test  (Tes Hasil Belajar), yaitu tes yang digunakan untuk mengukur apa yang telah dipelajari di berbagai bidang studi. Ada tes yang khusus meneliti penguasaan materi bidang studi tertentu saja.  Ada pula tes yang meliputi materi beberapa bidang studi dalam lingkup yang agak luas, yang menghasilkan skor-skor terpisah (subtest) yang saling membandingkan. Misalnya tes IPA Terpadu, yang terdiri dari mata pelajaran Fisika, Kimia dan Biologi.

Peserta didik yang dapat menjawab soal dengan benar dengan total nilai diatas 8 dapat dikatakan sebagai siswa yang memiliki potensi kognitif.

Data hasil ulangan peserta didik ini selanjutnya direkap, sehingga kita dapat membuat perbandingan rentang nilai hasil ulangan tersebut (dari nilai tertinggi dan terendah), nilai rata-rata kelas, dan di mana posisi seorang peserta didik.  Jika ia berada pada posisi nilai tertinggi, itu berarti ia memiliki potensi kognitif.  Demikian pula sebaliknya. 

5.       Tes Kemampuan Intelektual, yaitu tes yang mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah (Mental Ability Test; Intelligence Test; Academic Ability Test; Scholastic Aptitude Test).  Tes Kemampuan Intelektual ini biasa dikenal dengan nama Tes Kecerdasan (IQ), yang dilakukan oleh Lembaga Psikologi dibawah naungan Psikolog.

Saat ini, beberapa sekolah telah menggunakan psikotes sebagai sarana untuk melakukan seleksi penerimaan siswa baru, sehingga ”familiar” dengan data yang tercantum dalam hasil psikotes. Berikut ini adalah salah satu kriteria nilai IQ, yaitu :

Nilai / Score

Tingkat Kecerdasan

> 160

Istimewa Cerdas

140 - 159

Sangat Cerdas

120 - 139

Cerdas

110 - 119

Rata-rata Cerdas

90 - 109

Sedang

80 -  89

Rata-rata Lambat

60 -  79

Lambat

< 59

Sangat Lambat

Seorang peserta didik dikatakan memiliki potensi kognitif apabila ia termasuk ke dalam tingkat kecerdasan ”Cerdas” dengan skor diatas 120.

Pada dasarnya sebuah instrumen tes yang dikenal dengan tes IQ ini tidak hanya mengukur taraf kecerdasan saja.  Ia juga mengukur aspek-aspek kecerdasan lainnya, antara lain :

a.       Wawasan Pengetahuan Umum

b.       Kemampuan Analisa Sintesa

c.       Kemampuan Bahasa

d.       Kemampuan Ilmu Pasti

e.       Kemampuan Abstraksi

f.        Kemampuan Mengingat, dls

Aspek-aspek kecerdasan yang dituangkan di dalam hasil psikotes, sangat tergantung pada alat tes yang digunakan.  Alat tes kecerdasan yang umum digunakan di Indonesia, antara lain :

a.       Stanford-Binet Intelligence Scale, Form LM

b.       Wechsler Intelligence Scale for Children – Revised (WISC)

c.       Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS)

d.       Wechler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI)

e.       Raven Progressive Matrices – Advance (RPMA)

f.        Differential Aptitute Test (DAT)

Oleh karena itu, guru harus jeli melihat data potensi kognitif peserta didik.  Data ini harus dianalisis oleh ahlinya, namun bukan berarti kita “mengabaikan” data yang kita miliki dari hasil psikotes seleksi siswa baru itu, sepanjang kita membaca norma-norma yang diuraikan pada hasil psikotes tersebut.

 

B.      Analisis Potensi Afektif

Potensi afektif peserta didik dapat diukur dengan cara sebagai berikut :

1.     Angket, yaitu sebuah daftar isian yang mengungkap jenis organisasi yang pernah diikuti oleh peserta didik dan jabatan yang pernah dan sedang diembannya.  Seorang peserta didik yang menuliskan pernah beberapa kali menduduki jabatan pengurus inti sebuah organisasi (Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Bendahara) dapat dikatakan memiliki potensi afektif.  Mereka dapat mempertahankan jabatannya, tentu karena kematangan sosialnya.  Artinya mereka dapat mengatasi konflik dengan baik, karena di dalam sebuah organisasi seorang pengurus harus mampu mengakomodir keinginan anggota kelompok yang berbeda-beda.  Angket lain yang dapat mengungkap potensi afektif peserta didik adalah angket sosiometri. Contoh sosiometri dapat dilihat dalam Lampiran.

2.     Interview, yaitu kegiatan tanya jawab untuk mengetahui sejauh mana kebenaran data yang dituliskan di dalam angket point a di atas, terutama untuk mengelaborasi sejauhmana perannya sebagai pengurus inti tersebut.  Seorang peserta didik dikatakan memiliki potensi afektif jika ia berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan keputusan yang diambil.  Sekalipun dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan keputusan tersebut terjadi beberapa kali konflik dengan anggota kelompoknya, ia tetap berupaya memegang teguh tujuan yang akan dicapai.

3.     Observasi, yaitu hasil pengamatan sendiri atau orang lain terhadap pola interaksi peserta didik.  Misalnya dalam kegiatan pemilihan pengurus kelas, seorang peserta didik mengatur jalannya pemilihan.  Ia memimpin acara pemilihan pengurus kelas, mengatur tata cara pemilihan, melaksanakan penghitungan perolehan suara, mengumumkan hasilnya dan mengucapkan selamat kepada pengurus kelas terpilih.  Jika ia dapat mengarahkan berbagai macam usulan teman-temannya, tetap fokus pada tujuan pemilihan pengurus kelas dan lapang dada menerima hasil pemilihan, maka dapat dikatakan bahwa peserta didik tersebut memiliki potensi afektif.

Secara umum seseorang dikatakan memiliki potensi afektif jika memperlihatkan perilaku sebagai berikut :

a.   Tampil percaya diri, baik dalam forum formal maupun non formal

b.   Mudah mendapatkan teman, sekalipun di lingkungan baru

c.   Memiliki banyak sahabat

d.   Dapat mempengaruhi teman

e.   Ditunjuk sebagai pengurus kelas / OSIS

4.     Tes kepribadian, adalah sebuah instrumen tes yang baku yang digunakan untuk mengetahui kepribadian seseorang dan dilaksanakan oleh Lembaga Psikologi dibawah naungan Psikolog.  Alat tes yang biasa digunakan untuk mengetahui kepribadian seseorang, antara lain :

a.     Edwards Personal Preference Schedule (EPPS)

b.     Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI)

c.     Sixteen Personality (PF – 16)

d.     Sack’s Sentence Completion Test  (SSCT)

Data yang tercantum pada hasil psikotes yang termasuk aspek kepribadian, antara lain :

a.     Kemampuan Penyesuaian Diri

b.     Kemampuan Penempatan Diri

c.     Percaya Diri

d.     Kepemimpinan

e.     Motivasi Berprestasi

f.     Inisiatif

g.     Ketekunan, dls

Peserta didik dikatakan memiliki potensi afektif baik, jika aspek kepribadian di atas mendapat skala penilaian “Baik” atau “Sangat Baik”

 

C.      Analisis Potensi Psikomotor

Potensi psikomotor peserta didik dapat diukur dengan cara sebagai berikut :

1.     Angket, yaitu daftar isian yang memuat tentang kegiatan olah raga, ketrampilan atau seni yang diikuti peserta didik, misalnya klub sepak bola, basket, bulu tangkis, taekwondo, tari (tradisional atau modern), lukis, seni peran / teater dan lain-lain. 

2.     Observasi, yaitu pengamatan atas perilaku peserta didik, baik di kelas maupun di luar kelas.  Di dalam kelas, ia sulit duduk diam.  Tangan, kaki atau anggota badan lainnya bergerak terus.  Ia senang membantu guru mengumpulkan tugas sekolah. Ia lebih senang lagi jika ditugaskan ke luar kelas, baik ke TU ambil kertas atau spidol maupun ke Ruang Guru mengambil berkas.  Yang terpenting adalah ia dapat bergerak. Di luar kelas, ia senang mengikuti kegiatan pelajaran olah raga.  Waktu istirahat yang pendek pun digunakannya untuk main basket di lapangan basket. Oleh karena itu, ia menunjukkan penyesalan mendalam jika pelajaran olah raga  dilaksanakan dalam bentuk teori.

3.     Tes Sikap Kerja, yaitu sebuah alat yang digunakan oleh Psikolog untuk mengetahui kecepatan dan ketelitian kerja seseorang.  Dalam data psikotes akan tercantum aspek Kecepatan Kerja dan Ketelitian Kerja.  Seorang peserta didik dikatakan memiliki potensi psikomotor, jika skala penilaian ke-2 aspek tersebut berada pada kategori ”Baik” dan ”Sangat Baik”.